Ini bukan sekedar cerita, bukan sekedar karangan belaka, tapi ini adalah kisah nyata dari salah seorang sahabat saya, yang menyebut dirinya adalah Sang Pemimpi. Begitu pula saya yang meng iya kan sebutan itu untuk dia karena memang dia sang pemimpi.
Langsung saja simak ceritanya yukk semoga nilai nilai positifnya dapat kita ambil....
Awal Yang Mengesankan
Pagi hari teriakan sang jago yang tak begitu merdu membangunkan mata ini, pagi yang tak seperti biasanya karena aku akan berangkat ke sekolah lagi, aku akan bertemu dengan mandi pagi, sarapan pagi, perjalanan pagi dan semua yang serba pagi dan tak kalah penting aku akan dapatkan uang saku seperti dulu setelah lama tak merasakan semua itu. Ku dengar dentuman pisau sudah menghiasi dapur yang sudah rapuh dan berwarna hitam karena terkena asap setiap hari. Dengan mencium tangan sang ibu dan memberi salam tertinggi aku berangkat pagi benar karena harus menunggu angkutan desa yang memang berangkat pagi benar.
Inilah perjalanan pertamaku memakai seragam sekolah SMK dengan kendaraan angkotan desa yang berjalan lambat karena memang keadaan jalan yang tak cukup bagus. Berdesak-desakan dengan teman adalah hal yang lumrah, jangankan duduk di dalam angkutan desa ini untuk duduk di atas saja harus bersaing dengan ketat yang seharusnya tempat ini untuk barang-barang bawaan penumpang, lebih parah kadang aku harus menggantung mengandalkan tanganku dan satu kakiku untuk dapat bertahan di tangga disamping kendaraan ini. Namun aneh memang tak tahu mengapa muka ini masih menyodorkan senyumnya untuk keadaan seperti ini, mungkin memang keadaan tak menjadi penentu kebahagiaan namun sikap-sikap yang bijaklah yang akan merubah setiap keadaan menjadi indah. Terdengar berisik memang suara siswi-siswi di dalam angkutan membahas sesuatu yang sepertinya tak tahu dimana arahnya yang sepertinya agak mengganggu telingaku yang tak terbiasa mendengar obrolan seperti itu.
Masuk ke jalan raya terlihat pemandangan yang memang indah terlihat dari atas angkutan, laju angkutan yang tak secepat bis pun menambah suasana semakin damai, hingga semua kedamaian itu tersapu oleh ejekan anak-anak yang merasa dirinya adalah anak-anak kota yang sedang menunggu bis di pinggir jalan. Namun tidak ada pengaruh besar bagiku, karena nyatanya aku memang anak desa dan aku bangga akan hal itu. Sampai aku di jalan menuju Sekolah baruku, jalan yang mengingtakanku akan perjuanganku dan ibu di jalan ini. Aku pun sepertinya harus menyusuri jalan ini setiap hari, jalan yang jaraknya lebih dari setengah kilometer ini pun masih seperti dulu rusak berat. Sepatu baru pun seperti enggan menginjakan ke jalan yang penuh dengan tanah yang bercampur air seperti lumpur.
Tapi semangat ini memaksa mengayuh kaki sampai akhirnya sampai di depan kelas yang pintunya masih belum terbuka, lalu penjaga sekolah pun menyapa dengan ramah dan membukakan pintu dan mungkin sambil terheran-heran dalam hatinya bergumam datang pagi bener ini anak, memang pagi itu tak kulihat ada siswa lain. Aku pun hanya menunjukan wajah bersahaja dan menyapanya balik, pikiranku sekarang terfokus pada kelas baruku, aku masuk melihat-lihat bangunan dan meja-meja yang terlihat masih bersih dari coretan-coretan nakal murid seperti yang pernah aku lihat di meja-meja sekolahku sebelumnya. Tak terbersit sedikit pun dalam benakku sebelumnya akan masuk masuk kelas animasi ini, karena sebelumnya memang sekolah mengehendaki untuk aku masuk animasi aku juga tak habis pikir, aku juga pikir bukan hanya aku saja yang berfikir seperti itu. Berangsur teman-teman sekelasku datang masuk kelas, terlihat wajah kota mereka yang sepertinya memang anak-anak orang kaya.
Aku pun hanya terdiam sebagai anak desa yang sedang mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang cukup asing. Ruang kelas pun masih terasa sepi walau semua anak sudah masuk karena memang hanya ada interaksi antar sahabat satu SMP sebelumnya. Tak lama seorang guru wanita datang yang nantinya menjadi wali kelasku selama tiga tahun, suasana kelas menjadi sedikit cair saat berbagai candaan dari beberapa siswa terlontar. Aku pun mulai menikmati keadaanku yang seperti ini. Hari itu teman dan pegalaman baru kudapatkan di kelas itu. Hari itu menjadi berkesan karena itu adalah pertama aku berteman dengan sahabat yang nampaknya memang anak kota, pintar dan kaya. Rasanya aku menjadi anak kota juga. Satu hal yang ku ingat tidak mudah menjadikan seseorang menjadi kawan, namun tanpa usaha yang payah sangat mudah menjadikan kawan menjadi lawan.
Ada Blognya juga kawan, silahkan yang mau berkunjung, Insya Allah bermanfaat
http://fakhrudin95.blogspot.co.id/
No comments:
Post a Comment